Andi,Sahabat Yesus (bag.2)
Andy pun tewas tertabrak. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang yang tak bernyawa tersebut.
Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.
Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, “Maaf Tuan, apakah Anda keluarga bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya?”
Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, “Dia adalah sahabatku.”
Hanya itulah yang dia katakan.
Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.
“Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?”
“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” ucap ibu Andy terisak.
“Apa katanya?”
Ayah Andy berkata, “Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu…”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia berkata kepada puteraku… ‘Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.’”
Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian, semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia… aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku… Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta, siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena Anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal.”
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes di pipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan.”
Andi, Sahabat Yesus (bag.1)
Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya.
Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
“Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?”
“Ya, Bapa Pendeta!” Balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.
Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”
“Terima kasih, Bapa Pendeta.”
“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”
“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan… sahabatku.”
Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
Andy berkata…
Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar.
Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa… paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi. Tolong Tuhan…
Oh ya, Engkau tahu ibu memukulku lagin karena aku nakal. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini… di sini… aku rasa Engkau tahu yang ini kan? Tolong jangan marahi Ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku… Itulah mengapa dia memukul kami.
Oh Tuhan… Aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei… ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya.
Ooops aku harus pergi sekarang.
Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, “Bapa Pendeta, Bapa Pendeta, aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!”
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah… suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Mereka sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andy tiba dari pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan… Aku…”
“Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa???!!! keluar…!!!”
Andy begitu terkejut, “Di mana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, ini hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya…”
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.
Sambil membuat tanda salib ia berkata “Keluarlah bocah… kamu akan mendapatkannya!!!”
Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.
Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang, sebab di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan.
Andy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut.
Waktunya hanya sedikit untuk menghindar, tapi itu tidaklah cukup…
Dan…
Nyanyian Seorang Kakak
Dari pada gak ada ide, bagusan aku copas ini artikel, hehehe…
Kisah nyata ini terjadi di sebuahRumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandungbayinya yang kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantuMichael, anaknya yg pertama, yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adikbayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali
ia menempelkantelinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun seringmenyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu. Nampaknya Michael amatsayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karenuntuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Barusetelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yangcantik, sayang kondisinyabegitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedihberterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkanterjadi. Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepadayang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bilasewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan Michael, sejakadiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami,… aku mau nyanyi buatadik kecil!” Ibunya kurang tanggap. “Mami,
….aku pengennyanyi!” Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.”Mami, ….aku kepengen nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michaelbahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekanMichael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagianak-anak.Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpungadiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. Anak kecildilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang masuk! Karen menataptajam suster itu, lalu katanya: “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya,Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michaelmelihat adiknya!” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapitidak boleh lebih dari lima menit!”
Demikianlah kemudian Michaeldibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkanpada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekatadiknya….. . lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyianyang nyaring “…..You are my sunshine, my only sunshine, you make me happywhen skies are grey….” Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah iasadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You never know, dear, Howmuch I love you. Please don’t take my sunshine away.” Denyutnadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,….terus Michael!”Teruskan sayang!” bisik ibunya…. “The other night, dear,as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands…..” dan……Sangadikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjaditeratur….. … “I’ll
always love you and make you happy, if you willonly stay the same…….” Sang adik kelihatan begitu tenang ….sangat tenang. “Lagi sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan airmatanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang,relaks dan damai……. lalu tertidur lelap. Suster yang tadinyamelarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadiatas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkanpulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuahtherapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mukjizat Kasih Ilahiyang luar biasa, sungguh amat luar biasa! Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati.
Benar bahwamemang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulutkecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”. Danternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil sepertiMichael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahilbagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Nyanyian tulus membawa mukjizat.